Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BIografi Lengkap Imam Ahmad bin Hanbal

 

Berikut adalah biografi Imam Ahmad ibn Hanbal yang dirilis secara singkat namun lengkap. Biografi tokoh muslim ini diambil dari beberapa referensi yang otoritatif sehingga sangat bisa dipertanggungjawabkan, disertai dengan footnote dan daftar pustaka.

Imam Ahmad ibn Hanbal adalah imam yang keempat dari fuqoha Islam. Dia memiliki sifat-sifat yang luhur dan tinggi, imam umat Islam, imam Darussalam, Mufti di Irak, Zahid dan saleh, sabar menghadapi cobaan, seorang ahli hadits dan contoh teladan bagi orang-orang yang ahli hadits. Sayyid Rasyid Ridho berpendapat bahwa Ahmad ibn Hanbal adalah seorang mujaddid (pembaharu) abad ketiga. Bahkan dalam pandangan peneliti lainnya berpendapat bahwa Imam Ahmad ibn Hanbal lebih utama, dengan gelar tersebut, dari pada Ibnu Suraij, Syafi’i,Thahawy, al-Khilal dan an-Nasa’i.[1]

Imam Ahmad ibn Hanbal al-Syaibany dilahirkan di Baghdad tepatnya di kota Maru/Mery, kota kelahiran sang ibu, pada bulan Rabiul awal tahun 164 H atau bulan Nopember 780 Masehi. Nama lengkapnya Abu Abdillah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad IbnIdris ibn Abdillah ibn Hayyan ibn Abdillah bin Anas ibn Awf ibn Qasitibn Mazin ibn Syaiban ibn Zulal ibn Ismail ibn Ibrahim. Dengan kata lain, dia keturunan Arab dari suku bani Syaiban, sehingga diberi laqab al- Syaibany. Nasab keturunannya bertemu dengan Rasulullah SAW pada nizar ibn Ma’ad bin Adnan.[2]

Pernasaban nama Ibn Hanbal diambil dari nama kakeknya yang bernama Hanbal. Sehingga orang-orang lebih suka memanggil ibn Hanbal, padahal Hanbal sendiri nama kakeknya. Sedangkan ayahnya bernama Muhammad. Itu semua disebabkan karena kakeknya lebih terkenal daripada ayahnya. Kakeknya, Hanbal ibn Hilal adalah Gubernur di Sarakhs, Khurasan pada masa Daulah Umayyah.[3]

Ayah ibn Hanbal meninggal dunia ketika dia masih kecil. Karena itulah dia diasuh dan dibesarkan serta dididik oleh ibunya yang bernama Shatiyah binti Maimunah binti Abdul Malik Asy-Syaibani dari Bani Amir. Maka ayah dan bunda dia adalah keturunan Arab asli suku Syaiban yang inggal di Basrah. Karena itu dia juga diberi gelar al-Basri. Ketika dia berziarah ke Basra dirinya menyempatkan untuk shalat di masjid Mazinbani Syaiban. Dia berkata, “sesungguhnya masjid ini adalah masjid nenek moyangku.[4]

Ketika ayah ibn Hanbal meninggal dunia, ayahnya hanya meninggalkan harta pas-pasan untuk menghidupi keluarganya. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa jika Ahmad ibn Hanbal ditanya asal usul sukunya, dia mengatakan bahwa ia anak dari suku orang-orang miskin. Dan semenjak kematian ayahnya, ibunya tidak menikah lagi, meskipun dia masih muda dan banyak laki-laki yang melamarnya. Hal itu dilakukan dengan tujuan agar ia bisa memfokuskan perhatian pada Ahmad ibn Hanbal sehingga bisa tumbuh sebagaimana yang ia harapkan.[5]

Ahmad ibn Hanbal dibesarkan di Baghdad dan mendapatkan pendidikan awalnya di kota tersebut hingga usia 19 tahun. Sejak kecil Ahmad disekolahkan kepada seorang ahli Qiroat. Pada umur yang masih relatif muda ia sudah menghafalkan al-Quran, sejak usia enam belas tahun Ahmad juga belajar hadits. Karena kecintaan Ahmad terhadap hadits pagi-pagi buta dia selalu pergi ke masjid-masjid hingga ibunya merindukannya.[6]

Tahun 183 H Ahmad ibn Hanbal pergi ke beberapa kota dalamrangka mencari ilmu. Dia pergi ke Kuffah pada tahun 183 H, kemudian ke Bashrah pada tahun 186, ke Makkah pada tahun 187, dilanjutkan ke Madinah, Yaman (197), Siria dan Mesa Mesopotamia. Ibn Hanbal mempelajari hadits untuk pertama kalinya dari Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Qodhi, seorang ahl alra’yi pengikut Abu Hanifah. Dia belajar fiqih dan hadits dari Abi Yusuf. Karena itulah Abu Yusuf terhitung sebagai guru pertama bagi Ibn Hanbal.[7]

Sebagian peneliti berpendapat bahwa pengaruh Abu Yusuf terhadap Ibn Hanbal tidak begitu kuat. Sehingga ada yang mengatakan bahwa Abu Yusuf bukan guru pertamanya melainkan  Hasyim[8] bin Basyirbin Abu Hazim al-Wasithy. Sesungguhnya dialah yang memberi pengaruh yang jelas pada diri Ibn Hanbal. Ibn Hanbal berguru pada Hasyim selama 4 tahun dan mengambil hadits dan menulisnya sebanyak 3000 hadits.[9]

Imam Syafi’i sebagai salah satu seorang guru dia dikatakan oleh sebagian peneliti adalah sebagai guru yang kedua. Dia bertemu dengan Imam Syafi’i di musim haji ketika sedang mengajar di masjidil Haram. Kesempatan kedua kali mereka bertemu di Baghdad. Waktu akan pindah ke Mesir Imam Syafi’i menyarankan supaya mengikuti dia ke Mesir. Dia menyetujui saran itu, tetapi tidak terlaksana. Ibn Hanbal belajar dari Imam Syafi’i tentang pemahaman istinbath (pengambilan hukum) atau penyimpulan sebuah hukum hingga Muhammad bin Ishak bin Khuzimah berkata : “Ahmad ibn Hanbal adalah murid imam Syafi’i.[10]

Ibn Hanbal juga pernah belajar dari Ibrahim bin Saad, Yahya bin Al-Qattan Waki’ dan lain-lain. Dia pernah bercita-cita hendak menuntut ilmu dengan Malik bin Anas, tetapi Imam Malik meninggal sebelum ia menuntut ilmu padanya. Sebagai gantinya dia belajar kepada Sufyan bin Uyainah yang tinggal di Mekkah.[11]

Ibn Hanbal menuntut ilmu sepanjang hayatnya, karena terus menuntut ilmu orang pun bertanya pada dia; “sampai kapankah engkau hendak menuntut ilmu, padahal engkau sudah mencapai pada tingkat tertinggi dan menjadi imam bagi umat Islam?” dia menjawab, “dari ujung pena sampai ke pintu kubur.”

Jawaban Ibn Hanbal merupakan realisasi dari ajaran agama, atau ucapan-ucapan ahli fikir, atau ahli hadits, karena memang para ahli ilmu pengetahuan bukan saja berpegang pada pendapat dan pemikirannya sendiri, tetapi juga berpegang kepada pendapat orang-orang lain termasuk dalil- dalil nash wahyu. Karena mereka menyalin pendapat orang lain dengan tinta mereka yang dijuluki dengan Ashabul Mahabin”.[12]


 Karya dan Murid-Murid Imam Ahmad bin Hanbal

Ahmad ibn Hanbal adalah seorang ilmuwan yang produktif. Dia banyak menulis kitab. Salah satu kitabnya yang paling agung dan monumental adalah kitab yang diberi nama Musnad Ahmad ibn Hanbal. Yaitu kitab yang berupa kumpulan hadits Rasulullah SAW yang berjumlah 40.000 hadits. Hadits-hadits tersebut dia kumpulkan dari perawi-perawi yang dipercayai. Kitab tersebut dijadikan pedoman dalam menyelidikihadits-hadits.[1]

Kitab dia yang lain adalah “Az Zuhdi” yang menjelaskan sampai kemana kezuhudan Nabi- Nabi, sahabat-sahabat, khalifah-khalifah dan imam yang bersumberkan hadits, atsar dan akhbar”. Adapun kitab-kitab yang lainnya adalah:

1.                  Kitab al-‘Ilal

2.                  Kitab al-Tafsir

3.                  Kitab al-Nasikh wal Mansukh

4.                  Kitab Al-Zuhd

5.                  Kitab Al-Masail Kitab Fadail al-Sahabah

6.                  Kitab Al-Faraid

7.                  Kitab Al-Manasik

8.                  Kitab Al-Imam

9.                  Kitab Al-Asyribah

10.              Kitab Ta’at al-Rasul dan

11.              Kitab Al-Rad ‘ala al-Jahmiyyah[2]

Kitab yang disebut terakhir merupakan sebuah buku risalah dari surat Ahmad ibn Hanbal dalam menanggapi pendapat golongan Jihamiyah, yang mengatakan bahwa : al-Quran adalah percakapan AllahSWT yang hawadits. Dalam risalah tersebut Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan bahwa golongan Jihamiyah dengan segala macampendapatnya itu kafir dan halal dibunuh.[3]

Selain kitab-kitab yang disusun langsung oleh Imam Ahmad ibn Hanbal ada juga gagasan Ahmad ibn Hanbal yang diteruskan dan dilestarikan oleh para pengikutnya. Di antara rujukan fikih Hanabillah adalah sebagai berikut:

1.   Mukhtashar al-Khurqi karya Abu al-Qasim Umar ibn al-Husain al- KHurqi (w. 334 H)

2.   Al-Mughni Syarkh Ala Mukhtasar al-Khurqi karya Ibnu Qudamah (w. 620 H)

3.   Majmu’ Fatwa ibn Taimiah karya Taqiy al-Din Ahmad ibn Taimiah (w. 728 H)

4.   Ghayat al-Muntaha fi al-Jami’ bain al-Iqna wl Muntaha karya Mar’i ibn Yusuf al- Hanbali (w. 1032 H)

5.   Al-Jami’ al-Kabir karya Ahmad ibn Muhammad ibn Harun atau Abu Bakar al-Khallal.[4]

Adapun murid-murid dan sahabatnya adalah sebagai berikut:

a.    Al-Atsram Abu Bakar Ahmad bin Hani al-Khurasani (w. 273 H)

b.   Ahmad bin Muhammad bin al-Hajja al-Marwani (w. 275 H)

c.    Ibn Ishak al Harbi (w. 285 H)

d.   Al-Qasim Umar bin Ali al-Husain al-Khiraqi (w. 334 H)

e.    Abdul Aziz ibn Ja’far (w. 363 H)

Orang-orang yang terkenal yang melanjutkan pemikiran fiqh Imam Ahmad ibn Hanbal yang kurun waktunya agak jauh darinya.[5]

1.   Ibn Qudamah Muwaffiquddin (w. 620 H) penulis al Mughni.

2.   Ibn Qudamah, Syamsuddin al-Maghsi (w. 682 H) penulis al-Syarh al-Kabir.

Selanjutnya, tokoh yang membarui dan melengkapi pemikiran madzhab Hanbali terutama bidang muamalah adalah:

1.   Syeikh al-Islam Taqiyyudin ibn Taimiyyah (w. 728 H).

2.   Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah (w. 752 H) murid Ibn Taimiyyah.

Tadinya pengikut madzhab Hanbali tidak begitu banyak, setelah dikembangkan oleh dua tokoh yang disebut terakhir maka madzhab Hanbali menjadi semarak, terlebih setelah dikembangkan lagi oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (w. 1206 H), menjadi madzhab orang Nejed, dan kini menjadi madzhab resmi pemerintah kerajaan Saudi Arabia.[6]



[1] Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa ke Masa, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985, Cet.ke-1, h. 306.

[2] Al-Fatih Suryadilga (ed), Studi Kitab-kitab hadits, Yogyakarta: TERAS, 2003, Cet.ke-1, h.27.

[3] Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa ke Masa, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985, Cet.ke-1, h. 306.

 

[4] Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000, Cet.ke-2, h.122.

[5] Muhammad Zuhri, Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997, Cet.ke-2, h.125.

[6] Muhammad Zuhri, Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997, Cet.ke-2, h.126.

[1] Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa ke Masa, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985, Cet.ke-1,h.291

[2] Al-Fatih Suryadilga (ed), Studi Kitab-kitab hadits, Yogyakarta: TERAS, 2003, Cet.ke-1, h.25.

[3] Ahmad Asy-Syurbasy, Al-Aimmah al-Arba’ah, Terj. Futuhul Arifin, 4 Mutiara Zaman Biografi Empat Imam Madzhab, Jakarta: Pustaka Qalani, 2003, Cet.ke-1, h.168.

[4] Ahmad Asy-Syurbasy, Al-Aimmah al-Arba’ah, Terj. Futuhul Arifin, 4 Mutiara Zaman Biografi Empat Imam Madzhab, Jakarta: Pustaka Qalani, 2003, Cet.ke-1, h. 169.

[5] Al-Fatih Suryadilga (ed), Studi Kitab-kitab hadits, Yogyakarta: TERAS, 2003, Cet.ke-1, h.25.

[6] Al-Fatih Suryadilga (ed), Studi Kitab-kitab hadits, Yogyakarta: TERAS, 2003, Cet.ke-1, h.26.

[7] Ahmad Asy-Syurbasy, Al-Aimmah al-Arba’ah, Terj. Futuhul Arifin, 4 Mutiara Zaman Biografi Empat Imam Madzhab, Jakarta: Pustaka Qalani, 2003, Cet.ke-1, h. 171.

[8] Hasyim adalah seorang imam hadits dari Baghdad yang bertakwa, wara’ (menjauhi barang yang haram), seorang tabit-tabi’in banyak mendengar hadits dari imam-imam, imam Malik dan ulama lainnya banyak meriwayatkan hadits darinya. Hasyim adalah orang yang jenius kuat ingatannya .dilahirkan pada tahun 104 H dan wafat pada tahun 183 H.

[9] Ahmad Asy-Syurbasy, Al-Aimmah al-Arba’ah, Terj. Futuhul Arifin, 4 Mutiara Zaman Biografi Empat Imam Madzhab, Jakarta: Pustaka Qalani, 2003, Cet.ke-1, h. 172.

[10] Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa ke Masa, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985, Cet.ke-1,h.296.

[11] Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa ke Masa, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985, Cet.ke-1,h.296.

[12] Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa ke Masa, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985, Cet.ke-1,h.297.


Baca juga biografi tokoh muslim lainnya: Biografi Imam Abu Hanifah

Posting Komentar untuk "BIografi Lengkap Imam Ahmad bin Hanbal "